Majalengka – Berdasarkan pantauan situasi politik menjelang Pilkada serentak 2029 – 2030 dan persiapan menuju kontestasi selanjutnya di kabupaten Majalengka.Bursa calon wakil bupati memang tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai daerah. Fenomena ini menunjukkan dinamika politik lokal yang dinamis, dengan munculnya berbagai tokoh, baik wajah lama maupun pendatang baru.
Tanggapan aktivis cenderung pada harapan agar bursa calon wakil bupati yang ramai ini menghasilkan pemimpin yang benar-benar berkualitas, dan bukan sekadar bagi-bagi kekuasaan.
Aktivis Ali Salim Muchasin memberikan komentar terkait ramainya bursa calon wakil bupati ini, di antaranya Persaingan ketat menuju kursi wakil bupati Majalengka Delapan Nama Ini . Layak. Maju sebagai calon wakil Bupati Majalengka pilkada 2030
1 .Bahtera Kurniawan
2 .Tita Juwita Hipdiah
3 .Rona Firmansya
4 .Indra Sudrajat
5.ENTER NIZAR
6 .Dinar Tisnawati
7.Deden Hardian Narayanto
8 .Juhana Zulfan .
“Pentingnya Figur Wakil yang Komplementer Aktivis sering menekankan bahwa calon wakil bupati tidak sekadar menjadi “ban serep”, melainkan figur yang memiliki kompetensi teknis, integritas, dan mampu melengkapi kekurangan calon bupati, terutama dalam merumuskan kebijakan publik yang berpihak pada rakyat.” Ujar Ali Salim Muchasin saat di wawancara media pada sabtu 02 Mei 2026.
Ali Salim Muchasin menjelaskan Wadah Kandidat Muda dan Potensial Banyaknya kandidat yang muncul di bursa, termasuk figur muda (seperti pada beberapa survei elektabilitas di daerah), dinilai sebagai sinyal positif regenerasi kepemimpinan, namun aktivis memperingatkan agar tidak hanya sekadar populer, melainkan juga memiliki rekam jejak yang baik.
Pentingnya Seleksi yang Transparan Aktivis kerap mendorong partai politik untuk membuka ruang dialog dan transparansi dalam menentukan calon wakil bupati, agar tidak didominasi oleh kepentingan transaksional, melainkan berdasarkan kemampuan membangun daerah.
“Fokus pada Kapasitas Beberapa kalangan aktivis sering mengkritik jika calon wakil bupati hanya dipilih berdasarkan kedekatan dengan pimpinan partai, bukan berdasarkan keahlian teknis (teknokratis) yang dibutuhkan oleh kabupaten Majalengka tersebut.” Ucapnya
Dinamika ini mencakup berbagai latar belakang calon, mulai dari politisi, birokrat, hingga tokoh muda, yang siap bertarung dalam kontestasi politik lokal.***(kodir).














