Polri Untuk Indonesia
NASIONAL

Polwan Indonesia Angkat Modus Perdagangan Orang di Hadapan Polisi Internasional

×

Polwan Indonesia Angkat Modus Perdagangan Orang di Hadapan Polisi Internasional

Share this article

PPNews.id | Bali – Perdagangan orang menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian dalam International Association of Women Police (IAWP) Conference 2026. Di forum yang mempertemukan polisi wanita dari berbagai negara itu, Polwan Indonesia turut berbagi pengalaman terkait modus kejahatan yang menyasar perempuan.

Pembahasan tersebut disampaikan Kompol Riza Sativa melalui sesi pemaparan studi kasus. Ia membawa materi berjudul “Trafficking Case Study Involving a ‘Mail Ordered Bride’” dalam konferensi yang digelar di Badung, Bali.

Polri Presisi
Polri Untuk Indonesia

Topik tersebut mengangkat praktik perdagangan orang yang menggunakan pola mail ordered bride. Modus tersebut menjadi bagian dari pembahasan untuk melihat potensi kerentanan perempuan dalam praktik yang dapat berujung pada tindak pidana perdagangan orang.

Dalam pemaparannya, Riza menekankan perlunya kewaspadaan terhadap ancaman perdagangan orang. Perempuan Indonesia disebut menjadi salah satu kelompok yang berpotensi menjadi sasaran kejahatan tersebut.

“Wanita Indonesia menjadi salah satu sasaran dari tindak pidana kejahatan ini. Jadi, kita memang harus berhati-hati dan waspada terhadap ancaman trafficking tersebut,” ujar Kompol Riza Sativa.

Pemaparan di hadapan peserta internasional itu sekaligus menjadi kesempatan bagi Polwan Indonesia untuk menyampaikan perspektif mengenai persoalan perdagangan orang. Pengalaman tersebut kemudian dapat dipertukarkan dengan pengetahuan yang dimiliki kepolisian dari negara lain.

IAWP Conference 2026 memang menjadi ruang bagi polisi wanita dari berbagai negara untuk mendiskusikan tantangan dalam pelaksanaan tugas. Tidak hanya persoalan perdagangan orang, forum tersebut juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk saling berbagi pengalaman dan praktik dalam kepolisian.

Bagi Riza, pertemuan seperti itu memiliki manfaat tersendiri karena membuka akses komunikasi dengan sesama penegak hukum dari berbagai negara.

Interaksi tersebut memungkinkan peserta mengetahui pengalaman dan pengetahuan yang berkembang di lingkungan kepolisian negara lain. Hal itu sekaligus menjadi bagian dari proses memperluas wawasan profesional.

Keterlibatan Polwan Indonesia dalam forum tersebut juga diharapkan tidak berhenti pada satu kesempatan. Riza berharap lebih banyak Polwan Indonesia dapat tampil dalam forum internasional dan menyampaikan pengalaman maupun pengetahuan yang dimiliki.

“Harapan saya, semoga ke depan rekan-rekan kolega saya juga bisa menjadi pembicara di acara yang serupa, baik IAWP maupun acara-acara yang terkait dengan kepolisian lainnya,” katanya.

Sementara itu, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko melihat forum IAWP sebagai kesempatan untuk memperkuat hubungan profesional Polwan Indonesia dengan polisi wanita dari berbagai belahan dunia.

Menurutnya, kehadiran Polwan Indonesia dalam konferensi tersebut tidak hanya berkaitan dengan partisipasi dalam kegiatan internasional. Ada ruang yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas wawasan sekaligus membangun jejaring.

“Kegiatan IAWP 2026 menjadi momentum strategis bagi Polwan Indonesia untuk memperluas wawasan, membangun jejaring profesional, serta memperkuat komunikasi dan kerja sama dengan Polwan dari berbagai negara,” ujar Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko.

Jejaring yang terbentuk dalam forum internasional tersebut menjadi bagian dari komunikasi profesional antarkepolisian. Pertemuan langsung dengan polisi wanita dari negara lain juga memberikan kesempatan untuk bertukar pengalaman dalam menjalankan tugas.

Menurut Trunoyudo, pengalaman yang diperoleh dari interaksi tersebut dapat memberikan perspektif tambahan bagi Polwan Indonesia. Pengetahuan dari berbagai negara dapat menjadi bagian dari pembelajaran dalam menghadapi tantangan kepolisian.

Penguatan komunikasi juga memiliki relevansi ketika aparat menghadapi kejahatan yang melintasi batas wilayah negara. Dalam situasi semacam itu, hubungan dan koordinasi antarkepolisian menjadi bagian yang diperlukan dalam mendukung penanganan perkara.

Perdagangan orang merupakan salah satu persoalan yang mendapat perhatian dalam konteks tersebut. Modus kejahatan yang beragam menuntut pemahaman yang memadai dari aparat penegak hukum maupun masyarakat.

Karena itu, studi kasus yang disampaikan Riza dalam IAWP 2026 menjadi salah satu materi yang memberikan gambaran mengenai modus perdagangan orang. Pembahasan mengenai mail ordered bride turut membuka ruang diskusi mengenai kerentanan perempuan terhadap kejahatan tersebut.

Di sisi lain, keikutsertaan Polwan Indonesia juga menunjukkan adanya ruang bagi personel kepolisian untuk berkontribusi dalam forum profesional tingkat internasional.

Pertukaran pengetahuan yang berlangsung selama konferensi diharapkan dapat memperkaya wawasan para peserta. Bagi Polwan Indonesia, pengalaman tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk membangun hubungan dengan kolega kepolisian dari negara lain.

IAWP Conference 2026 pun menjadi momentum yang mempertemukan dua kepentingan sekaligus, yakni peningkatan wawasan kepolisian dan penguatan jejaring internasional.

Melalui forum tersebut, Polwan Indonesia tidak hanya mengikuti perkembangan isu kepolisian global, tetapi juga ikut membawa pengalaman dari Indonesia dalam pembahasan mengenai perdagangan orang dan tantangan penegakan hukum lintas negara. (syla)