Polri Untuk Indonesia
DAERAH

Rumah Zakat Probolinggo Bersama Destana Mangunharjo Gaungkan Kepedulian Lingkungan di Momentum Bulan PRB 2026

×

Rumah Zakat Probolinggo Bersama Destana Mangunharjo Gaungkan Kepedulian Lingkungan di Momentum Bulan PRB 2026

Share this article

PPNews.id | Probolinggo – Semangat membangun lingkungan yang bersih dan meningkatkan kepedulian terhadap ancaman bencana mewarnai kegiatan Rumah Zakat Probolinggo bersama Desa Tangguh Bencana (Destana) Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. Melalui aksi gotong royong di Taman Pemakaman Umum (TPU) Sumber Arum, Jumat (23/10/2026) sore, para peserta mengajak masyarakat menjadikan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Tahun 2026. Pelaksanaannya tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki kondisi kebersihan kawasan pemakaman, tetapi juga menjadi sarana membangun kesadaran bahwa pencegahan bencana dapat dimulai melalui perhatian terhadap lingkungan sekitar.

Polri Presisi
Polri Untuk Indonesia

Dengan membawa peralatan kebersihan dan perlengkapan kerja, para peserta langsung melakukan penataan di sejumlah titik. Mereka bekerja bersama membersihkan saluran air, memangkas rerumputan liar, serta merapikan dahan pohon yang melintang di area TPU Sumber Arum.

Kegiatan ini melibatkan unsur pemerintah daerah, relawan kebencanaan, aparat kewilayahan, dan masyarakat melalui Destana. Hadir dalam kesempatan tersebut Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Probolinggo Nurkholiq, Fasilitator Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Eko Yudha H.M., serta Lurah Mangunharjo Ikromi Wida Utama.

Turut mengikuti kegiatan Babinsa dan Bhabinkamtibmas Kelurahan Mangunharjo, Ketua Destana Kelurahan Mangunharjo Rudi Purwanto, dan belasan anggota Destana. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan keterlibatan bersama dalam mendukung kegiatan sosial yang berkaitan dengan kebersihan dan kesiapsiagaan lingkungan.

Di lapangan, pembersihan dilakukan secara gotong royong dengan memanfaatkan peralatan sederhana. Cangkul, sabit, dan gunting rumput digunakan untuk menunjang pekerjaan, menyesuaikan dengan kondisi area yang dibersihkan dan ditata.

Saluran air menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian peserta. Pembersihan dilakukan untuk mengurangi hambatan aliran air akibat kotoran atau material yang menumpuk. Langkah pemeliharaan ini penting sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan, meskipun upaya pencegahan genangan tetap bergantung pada kondisi saluran dan faktor lainnya.

Sementara itu, rerumputan liar yang tumbuh di kawasan pemakaman dipangkas agar area terlihat lebih rapi. Para peserta juga melakukan penataan pada bagian lingkungan yang dinilai memerlukan perhatian, sehingga kawasan TPU dapat terpelihara dengan lebih baik.

Dahan-dahan pohon yang melintang turut dirapikan untuk mengurangi potensi gangguan terhadap akses di sekitar lokasi. Pekerjaan tersebut menjadi bagian dari perhatian terhadap keselamatan dan kenyamanan masyarakat yang menggunakan kawasan pemakaman.

Ketua Destana Kelurahan Mangunharjo, Rudi Purwanto, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk mendekatkan upaya pengurangan risiko bencana dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan perlu dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Pengurangan risiko bencana bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memastikan saluran air terawat, membersihkan lingkungan, dan memperhatikan kondisi yang berpotensi menimbulkan bahaya,” ujar Rudi.

Ia menjelaskan, Destana diharapkan mampu mendorong keterlibatan warga dalam kegiatan pencegahan sekaligus memperkuat kesiapsiagaan di tingkat kelurahan. Dengan masyarakat yang semakin peduli terhadap kondisi sekitarnya, potensi persoalan lingkungan diharapkan dapat diketahui lebih awal dan ditangani sesuai kebutuhan.

Rudi juga berharap aksi tersebut dapat menjadi pemicu bagi masyarakat untuk terus menjaga kebersihan lingkungan tanpa harus menunggu adanya kegiatan bersama. Menurutnya, keberlanjutan kepedulian warga menjadi bagian penting dalam mendukung terbentuknya lingkungan yang lebih tertata dan tangguh.

Lurah Mangunharjo, Ikromi Wida Utama, menilai kegiatan gotong royong tersebut menunjukkan pentingnya partisipasi berbagai pihak dalam menjaga fasilitas umum. Ia menekankan bahwa lingkungan yang bersih membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat secara beriringan.

“Kegiatan ini mengingatkan kita bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan bersama. Kami berharap masyarakat semakin terbiasa menjaga kebersihan, merawat fasilitas umum, dan ikut memperhatikan kondisi lingkungan agar tetap aman serta nyaman,” kata Ikromi.

Menurutnya, kerja sama yang terbangun melalui kegiatan tersebut perlu dipertahankan dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan. Pemerintah kelurahan, relawan, dan aparat kewilayahan diharapkan terus bersinergi untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam merawat lingkungan tempat tinggal maupun fasilitas yang digunakan bersama.

Ikromi menambahkan bahwa kegiatan sosial seperti ini juga dapat memperkuat budaya gotong royong di tengah masyarakat. Dengan adanya kepedulian kolektif, berbagai persoalan kebersihan dapat menjadi perhatian bersama dan ditangani melalui langkah-langkah yang berkelanjutan.

Dari sisi kebencanaan, Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Probolinggo, Nurkholiq, menyampaikan bahwa pengurangan risiko bencana membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak tahap pencegahan. Peringatan Bulan PRB menjadi momentum untuk memperluas pemahaman bahwa kesiapsiagaan tidak hanya diperlukan ketika bencana terjadi.

“Kesadaran terhadap risiko bencana perlu dibangun dari lingkungan masing-masing. Masyarakat dapat mengambil peran dengan menjaga kebersihan, memperhatikan kondisi saluran air, serta melaporkan potensi bahaya yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Hal-hal tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan bersama,” ungkap Nurkholiq.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara BPBD, pemerintah kelurahan, fasilitator, relawan, dan masyarakat perlu terus dikembangkan. Sinergi tersebut diharapkan dapat membantu penyebarluasan edukasi kebencanaan sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam mengenali potensi ancaman di wilayahnya.

Melalui aksi di TPU Sumber Arum, Rumah Zakat Probolinggo bersama Destana Kelurahan Mangunharjo berupaya menjadikan peringatan Bulan PRB 2026 sebagai momentum untuk memperkuat kepedulian sosial dan lingkungan. Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya tindakan nyata dalam mendukung kebersihan fasilitas umum dan meningkatkan kesadaran terhadap pengurangan risiko bencana.

Ke depan, semangat yang tumbuh melalui gotong royong tersebut diharapkan dapat diteruskan dalam kegiatan pemeliharaan lingkungan secara rutin. Partisipasi masyarakat, didukung koordinasi berbagai unsur, menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang bersih, tertata, dan lebih siap menghadapi potensi risiko bencana. (Saila)