Polri Untuk Indonesia
Uncategorized

Wali Kota Aminuddin Buka Jambore FPRB Kota Probolinggo, 250 Peserta Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

×

Wali Kota Aminuddin Buka Jambore FPRB Kota Probolinggo, 250 Peserta Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

Share this article

PPNews.id | Probolinggo – Upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana terus didorong Pemerintah Kota Probolinggo melalui penyelenggaraan Jambore Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Kegiatan yang diawali dengan Apel Ceremony tersebut berlangsung di kawasan Pantai Perikanan Pantai (PPP) Mayangan, Jumat (16/10/2026) sore, dengan melibatkan ratusan relawan dan berbagai unsur lintas sektor.

Sebanyak 250 peserta mengikuti kegiatan yang menjadi wadah peningkatan kapasitas, penguatan koordinasi, serta pertukaran pengetahuan dalam upaya pengurangan risiko bencana. Peserta berasal dari relawan Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana) di 29 kelurahan serta unsur pentahelix yang meliputi pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.

Polri Presisi
Polri Untuk Indonesia

Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin hadir sekaligus bertindak sebagai pembina apel. Kehadirannya menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan peran relawan dan kolaborasi berbagai pihak dalam mewujudkan Kota Probolinggo yang lebih siap menghadapi ancaman bencana.

Apel tersebut juga dihadiri Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo Boedi Harjanto, perwakilan Kodim 0820/Probolinggo, perwakilan Polres Probolinggo Kota, Ketua FPRB Kota Probolinggo Sugeng Nufindarko, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), camat, serta lurah se-Kota Probolinggo.

Ketua Panitia Jambore FPRB, Syaifudin Zuhri, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk mempertemukan para relawan dan pemangku kepentingan dalam satu gerakan bersama menghadapi potensi bencana. Menurutnya, keterlibatan 250 peserta dari berbagai unsur menjadi modal penting untuk memperluas kerja sama dalam membangun ketangguhan masyarakat.

Syaifudin menjelaskan bahwa unsur pentahelix memiliki peran yang saling melengkapi dalam upaya pengurangan risiko bencana. Pemerintah berperan dalam kebijakan dan koordinasi, akademisi mendukung pengembangan pengetahuan, dunia usaha berkontribusi melalui dukungan sumber daya, komunitas menjadi penggerak di lingkungan masyarakat, sedangkan media membantu menyebarluaskan informasi kebencanaan.

Ia menambahkan, rangkaian kegiatan diawali dengan Apel Ceremony, kemudian dilanjutkan dengan menyaksikan simulasi penyelamatan di perairan atau water rescue yang diselenggarakan oleh PT Paiton Operation and Maintenance Indonesia (POMI). Simulasi tersebut menjadi sarana edukasi bagi peserta untuk mengenali tahapan penyelamatan dalam situasi darurat di kawasan perairan.

Selain apel dan simulasi, panitia juga menyiapkan sejumlah materi untuk memperkuat wawasan peserta mengenai kebencanaan. Materi yang diberikan mencakup peran relawan dalam penanggulangan bencana, peran relawan dalam pengelolaan lingkungan, serta peran akademisi dalam mendukung penanggulangan bencana.

Melalui pembekalan tersebut, Syaifudin berharap para relawan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh secara langsung di wilayah masing-masing. Ia menilai kesiapsiagaan yang dibangun hingga tingkat kelurahan menjadi bagian penting untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengenali ancaman dan mengurangi dampak bencana.

Dalam sambutannya, Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menekankan bahwa mitigasi merupakan langkah mendasar yang harus diperkuat sebelum bencana terjadi. Ia mengingatkan bahwa upaya mengurangi risiko dan mempersiapkan masyarakat sejak dini jauh lebih penting daripada hanya mengandalkan penanganan setelah bencana melanda.

Menurut Aminuddin, penanganan pascabencana memang diperlukan, tetapi langkah antisipasi harus menjadi perhatian utama seluruh pemangku kepentingan. Dengan mitigasi yang terencana, potensi ancaman dapat dikenali lebih awal sehingga dampak terhadap keselamatan masyarakat dan lingkungan dapat diminimalkan.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pemerintah Kota Probolinggo telah melakukan berbagai langkah mitigasi, salah satunya dengan mengoperasikan sistem peringatan dini atau early warning system yang terpusat di BPBD Kota Probolinggo. Sistem tersebut mendukung pemantauan potensi ancaman bencana sekaligus membantu pemerintah dalam mempersiapkan langkah antisipasi.

Aminuddin menyebut pemantauan potensi bencana mencakup perkembangan aktivitas kegempaan berskala kecil yang terjadi di wilayah Probolinggo hingga peningkatan aktivitas Gunung Bromo. Menurutnya, informasi mengenai perkembangan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar kesiapsiagaan dapat ditingkatkan sesuai dengan potensi ancaman yang muncul.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberadaan sistem pemantauan tidak boleh membuat masyarakat mengabaikan kewaspadaan. Kota Probolinggo tetap memiliki sejumlah risiko bencana yang perlu diantisipasi, terutama banjir, angin puting beliung, dan banjir rob yang berpotensi mengancam wilayah dataran rendah serta kawasan pesisir.

“Kota Probolinggo ini memang relatif aman, tetapi kita tetap harus waspada. Kita punya risiko banjir, angin puting beliung hingga ancaman rob karena wilayah kita dataran rendah,” ujar Aminuddin saat menyampaikan sambutan di hadapan peserta apel.

Ia menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau petugas kebencanaan. Masyarakat perlu memahami potensi bahaya di lingkungannya, mengetahui langkah penyelamatan, serta mampu merespons informasi peringatan dini dengan tepat.

Dalam konteks tersebut, Aminuddin menilai keberadaan relawan Keltana memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan masyarakat di tingkat kelurahan. Relawan diharapkan mampu menjadi penghubung informasi kebencanaan, membantu meningkatkan kesadaran warga, dan mendukung langkah-langkah mitigasi sesuai kondisi wilayah masing-masing.

Ia juga mendorong agar forum yang mempertemukan berbagai unsur tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Jambore FPRB harus menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi, menyamakan pemahaman, serta membangun kerja sama yang berkelanjutan dalam menghadapi potensi bencana.

“Kami berharap forum ini dapat bersama-sama menciptakan Kota Probolinggo menjadi kota yang tangguh terhadap bencana,” tegas Aminuddin.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Jambore FPRB Kota Probolinggo juga diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Ketua FPRB Kota Probolinggo Sugeng Nufindarko dan PT POMI. Penandatanganan tersebut menjadi salah satu bentuk penguatan hubungan kerja sama antara forum kebencanaan dan pihak dunia usaha.

Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Probolinggo menyerahkan piagam sponsor secara simbolis sebagai bentuk apresiasi atas dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan. Dukungan berbagai pihak diharapkan dapat membantu memperkuat penyelenggaraan program peningkatan kapasitas relawan dan edukasi kebencanaan.

Usai rangkaian apel, penandatanganan MoU, dan penyerahan piagam sponsor, para tamu undangan bersama peserta bergerak menuju kawasan Wisata Kum-Kum Surya Citra Bahari (SCB). Di lokasi tersebut, tim PT POMI memperagakan simulasi water rescue untuk menunjukkan proses penanganan kecelakaan di perairan.

Dalam skenario simulasi, dua wisatawan digambarkan mengalami insiden saat berenang dan membutuhkan pertolongan. Lambaian tangan dari kejauhan menjadi isyarat bahwa korban berada dalam kondisi darurat, sehingga tim penyelamat segera bergerak menuju titik kejadian menggunakan perahu karet.

Sebanyak lima tim penyelamat dikerahkan untuk menjalankan proses pertolongan. Mereka bergerak menuju lokasi korban dengan memperhatikan koordinasi dan tahapan penyelamatan, kemudian mendekati korban untuk melakukan evakuasi secara hati-hati.

Setelah mencapai lokasi, tim segera mengevakuasi kedua korban menuju tepi pantai. Peragaan tersebut menunjukkan pentingnya kecepatan respons, koordinasi antarpersonel, serta penggunaan sarana penyelamatan yang sesuai ketika menghadapi insiden di kawasan perairan.

Sesampainya di tepi pantai, kedua korban mendapatkan penanganan sesuai kondisi masing-masing. Dalam simulasi tersebut, satu korban dinyatakan selamat, sedangkan korban lainnya digambarkan tidak sadarkan diri dan segera mendapatkan pertolongan pertama dari petugas medis yang telah bersiaga di lokasi.

Setelah mendapatkan pertolongan pertama dan kembali sadar, korban kemudian dievakuasi menuju rumah sakit untuk memperoleh penanganan intensif. Tahapan tersebut memperlihatkan bahwa proses penyelamatan tidak berhenti setelah korban berhasil dibawa ke darat, tetapi juga membutuhkan penanganan medis lanjutan.

Simulasi water rescue tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam Jambore FPRB karena memberikan gambaran praktis mengenai penanganan keadaan darurat di kawasan wisata perairan. Kegiatan ini sekaligus mengingatkan pentingnya kesiapan personel, peralatan penyelamatan, serta koordinasi antara tim evakuasi dan petugas medis.

Melalui kegiatan tersebut, para peserta diharapkan memperoleh tambahan wawasan mengenai langkah penyelamatan sekaligus memahami pentingnya kerja sama dalam menghadapi kondisi darurat. Pengetahuan dan keterampilan tersebut dapat menjadi bekal bagi relawan untuk mendukung upaya kesiapsiagaan di wilayah tugas masing-masing.

Jambore FPRB Kota Probolinggo pun menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, relawan, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media. Dengan sinergi yang berkelanjutan, upaya pengurangan risiko bencana diharapkan dapat dilaksanakan secara lebih terarah, mulai dari peningkatan kesadaran masyarakat hingga penguatan kemampuan menghadapi situasi darurat.

Melalui penguatan peran relawan di 29 kelurahan dan dukungan seluruh unsur pentahelix, Pemerintah Kota Probolinggo berharap terbentuk masyarakat yang lebih tangguh, tanggap, dan siap menghadapi berbagai potensi ancaman. Semangat mitigasi yang dibangun melalui Jambore FPRB diharapkan menjadi langkah berkelanjutan untuk melindungi masyarakat sekaligus mengurangi risiko dan dampak bencana di Kota Probolinggo. (Saila)