Polri Untuk Indonesia
DAERAH

Jambore FPRB Kota Probolinggo, Akademisi UPM Dorong Relawan Lebih Adaptif Hadapi Ancaman Bencana

×

Jambore FPRB Kota Probolinggo, Akademisi UPM Dorong Relawan Lebih Adaptif Hadapi Ancaman Bencana

Share this article

PPNews.id | Probolinggo – Membangun kesiapan menghadapi bencana membutuhkan kemampuan mengenali ancaman sejak dini, memahami kondisi lingkungan, serta menyusun langkah antisipasi yang tepat. Upaya tersebut perlu diperkuat melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara kalangan akademisi dengan para relawan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Pentingnya pendekatan tersebut menjadi salah satu bahasan dalam Jambore Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Probolinggo. Dosen Universitas Panca Marga (UPM), Yustina Suhandini, yang akrab disapa Dini, hadir memberikan materi kepada peserta dari unsur Relawan Desa Tangguh Bencana (Destana), Jumat (16/10/2026) malam, di Aula UPT PPP Mayangan.

Polri Presisi
Polri Untuk Indonesia

Dalam kesempatan itu, Dini mengajak peserta melihat pengurangan risiko bencana sebagai proses yang harus dipersiapkan secara sistematis. Menurutnya, kesiapan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bertindak ketika keadaan darurat, tetapi juga oleh pemahaman terhadap potensi ancaman dan langkah pencegahan yang dilakukan sebelumnya.

Ia menjelaskan, dunia akademik dapat memberikan dukungan melalui pengembangan kajian ilmiah, penelitian mengenai kebencanaan, serta penyampaian informasi yang membantu masyarakat memahami risiko di sekitarnya.

Bagi Dini, pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi perlu menjangkau masyarakat secara langsung. Hasil penelitian dan kajian tidak seharusnya berhenti sebagai dokumen akademik, melainkan dapat digunakan untuk memperkuat perencanaan mitigasi dan meningkatkan kapasitas warga dalam menghadapi situasi berisiko.

“Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menerapkan ilmu pengetahuan secara nyata di tengah masyarakat,” jelasnya.

Ia menilai, karakteristik setiap wilayah perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah pengurangan risiko bencana. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan, potensi ancaman, serta kemampuan masyarakat setempat.

Dalam penerapannya, edukasi menjadi salah satu unsur penting. Masyarakat perlu memperoleh informasi yang mudah dipahami mengenai risiko bencana, tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampaknya, dan langkah yang harus diambil ketika menghadapi keadaan darurat.

Dini juga mengingatkan bahwa kesiapsiagaan tidak dapat dibangun secara instan. Diperlukan proses pembelajaran yang berkelanjutan agar pengetahuan kebencanaan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Penanggulangan bencana membutuhkan keterlibatan semua pihak. Akademisi dapat berkontribusi melalui ilmu pengetahuan, penelitian, edukasi, dan pendampingan masyarakat agar upaya pengurangan risiko bencana dapat dilakukan secara lebih terarah,” pesannya.

Selain membahas kontribusi akademisi, Dini menyoroti perlunya kerja sama yang kuat di antara para pemangku kepentingan. Pemerintah, perguruan tinggi, komunitas relawan, dunia usaha, media, dan masyarakat perlu memiliki komunikasi yang baik agar berbagai upaya kebencanaan dapat saling melengkapi.

Kolaborasi tersebut juga membuka peluang bagi pertukaran informasi antara peneliti dan relawan. Pengetahuan akademik dapat membantu memperkuat perencanaan, sementara pengalaman di lapangan dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan nyata masyarakat.

Dalam konteks itu, FPRB memiliki fungsi penting sebagai wadah untuk membangun koordinasi dan mempertemukan berbagai pihak yang terlibat dalam pengurangan risiko bencana. Melalui interaksi lintas sektor, upaya mitigasi diharapkan semakin relevan dengan kondisi dan tantangan di daerah.

Dini berharap, Jambore FPRB Kota Probolinggo dapat menjadi titik penguatan kerja sama antarpeserta, bukan hanya sebagai kegiatan berbagi pengalaman. Pengetahuan yang diperoleh selama jambore diharapkan dapat diterapkan untuk mendukung kegiatan kesiapsiagaan di lingkungan masing-masing.

Ia menegaskan, keberhasilan penanggulangan bencana memerlukan kesinambungan antara upaya pencegahan, kesiapan menghadapi keadaan darurat, dan pemulihan setelah bencana. Seluruh tahapan tersebut membutuhkan koordinasi yang terjaga serta perhatian terhadap kebutuhan masyarakat.

“Keberhasilan penanggulangan bencana membutuhkan kesiapan sebelum bencana terjadi, koordinasi yang baik saat keadaan darurat, serta proses pemulihan yang memperhatikan kebutuhan masyarakat terdampak. Karena itu, kolaborasi yang dibangun perlu berkelanjutan dan tidak terbatas pada kegiatan tertentu,” pungkasnya.

Melalui pembekalan tersebut, peserta Jambore FPRB diharapkan semakin memahami pentingnya memadukan pengetahuan ilmiah dengan pengalaman lapangan. Keterlibatan perguruan tinggi bersama relawan dan unsur masyarakat lainnya menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kesiapan daerah dalam menghadapi potensi bencana secara terencana dan berkelanjutan.

(Saila)