KOTA PROBOLINGGO – Perkumpulan Peduli Sampah (PAPESA) Kota Probolinggo resmi memperkenalkan program Barang Bekas Berkualitas (BARBEKQU) kepada masyarakat saat kegiatan Car Free Day (CFD) di Jalan Suroyo, Minggu (19/7/2026) pagi. Melalui program ini, PAPESA mengajak masyarakat mengubah pakaian bekas layak pakai menjadi sumber manfaat baru bagi kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan.
Peluncuran BARBEKQU mendapat dukungan dari berbagai elemen. Hadir dalam kegiatan tersebut Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Probolinggo, dosen dan mahasiswa Universitas Panca Marga (UPM), serta Rektor Institut Ahmad Dahlan (IAD) Probolinggo bersama civitas akademik.
Dalam kegiatan itu, PAPESA membuka lapak penjualan pakaian bekas berkualitas hasil donasi masyarakat. Produk yang dijual meliputi pakaian anak-anak hingga dewasa, daster, celana dan kemeja dengan harga mulai Rp10 ribu.
Seluruh pakaian yang dijual telah melalui proses seleksi dan penyortiran oleh relawan PAPESA sehingga tetap layak digunakan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kualitas barang sekaligus memberikan kepuasan kepada pembeli.
Selain penjualan BARBEKQU, PAPESA juga memanfaatkan momentum CFD untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pengurangan sampah, khususnya limbah tekstil yang terus meningkat akibat tingginya konsumsi produk fesyen.
Relawan PAPESA turut menggelar aksi bersih-bersih di sepanjang kawasan Jalan Suroyo sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekaligus mengajak masyarakat membangun budaya menjaga ruang publik.
Ketua PAPESA Kota Probolinggo, Syaifudin Zuhri, mengatakan BARBEKQU hadir sebagai solusi sederhana terhadap persoalan limbah pakaian yang semakin meningkat.
“Masih banyak pakaian yang menumpuk di dalam lemari karena sudah tidak dipakai, padahal kondisinya masih sangat layak. Melalui BARBEKQU kami ingin memperpanjang nilai manfaat pakaian tersebut agar tidak berakhir menjadi sampah,” kata Syaifudin.
Menurutnya, setiap pakaian yang diterima PAPESA berasal dari masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan ingin berbagi kepada sesama.
“Semua pakaian yang masuk kami sortir terlebih dahulu. Kami memilih yang benar-benar masih layak pakai sehingga masyarakat yang membeli juga mendapatkan barang dengan kualitas yang baik,” ujarnya.
Ia menegaskan, seluruh hasil penjualan BARBEKQU akan dikembalikan kepada masyarakat melalui berbagai program yang dijalankan PAPESA.
“Dana dari penjualan ini kami gunakan untuk mendukung kegiatan sosial, kegiatan lingkungan, edukasi pengelolaan sampah, hingga aksi kemanusiaan yang rutin kami lakukan di Kota Probolinggo,” jelasnya.
Syaifudin juga mengaku bersyukur atas tingginya kepercayaan masyarakat yang telah menitipkan pakaian bekas kepada PAPESA.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh donatur yang telah mempercayakan barang bekasnya kepada PAPESA. Tanpa dukungan masyarakat, gerakan seperti ini tentu tidak akan berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan BARBEKQU bukan hanya menawarkan pakaian murah, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap barang bekas.
“Kami ingin masyarakat memahami bahwa barang bekas bukan berarti tidak bernilai. Selama masih layak pakai, barang tersebut bisa menjadi manfaat bagi orang lain sekaligus membantu mengurangi timbulan sampah,” tegasnya.
Syaifudin menambahkan, kegiatan PAPESA di CFD tidak berhenti pada penjualan pakaian saja.
“Kami juga memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah dan menggelar aksi clean up di kawasan CFD. Edukasi dan aksi nyata harus berjalan beriringan agar kesadaran masyarakat terus meningkat,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris DLH Kota Probolinggo Hariesza Arnas Pirzada yang mewakili Kepala DLH Agus Dwiwantoro memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dilakukan PAPESA.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena mampu menggabungkan aspek lingkungan, sosial dan ekonomi dalam satu gerakan yang sangat positif,” ujar Hariesza.
Ia menilai perkembangan dunia fesyen saat ini turut menyumbang meningkatnya limbah tekstil karena masyarakat semakin mudah membeli pakaian baru melalui berbagai platform digital.
“Saat ini tren fashion berubah sangat cepat. Banyak orang membeli pakaian secara online, lalu menggantinya lagi ketika muncul model terbaru. Akibatnya, pakaian lama menjadi limbah meski sebenarnya masih layak digunakan,” katanya.
Menurut Hariesza, kehadiran BARBEKQU menjadi salah satu solusi nyata dalam mengurangi limbah tersebut.
“Kami berharap masyarakat tidak lagi membuang pakaian yang masih bagus. Titipkan saja kepada PAPESA agar bisa dimanfaatkan kembali dan memberi manfaat bagi orang lain,” ucapnya.
DLH juga berharap gerakan yang diinisiasi PAPESA terus berkembang dan tidak hanya dilaksanakan saat CFD.
“Ke depan kami berharap PAPESA dapat membuka outlet maupun posko donasi pakaian bekas sehingga masyarakat bisa menyalurkan donasinya setiap hari. Jika gerakan ini berkelanjutan, saya yakin dampaknya terhadap pengurangan limbah fashion di Kota Probolinggo akan semakin besar,” pungkas Hariesza.














