Polri Untuk Indonesia
DAERAH

Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat, FPRB Kota Probolinggo Matangkan Jambore Destana

×

Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat, FPRB Kota Probolinggo Matangkan Jambore Destana

Share this article

PPNews.id | Probolinggo – Penguatan peran masyarakat dalam pengurangan risiko bencana menjadi salah satu perhatian Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Probolinggo menjelang pelaksanaan jambore pada Jumat (16/10/2026). Untuk mendukung agenda tersebut, pengurus FPRB menggelar rapat koordinasi bersama jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo di Aula BPBD, Selasa (13/10/2026) malam.

Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk mematangkan kesiapan kegiatan yang akan berlangsung di Pelabuhan Perikanan Indonesia (PPI) Mayangan. Selain membahas kebutuhan pelaksanaan, koordinasi juga menjadi sarana untuk memperkuat komunikasi antarpengurus agar seluruh rangkaian acara dapat dipersiapkan secara terarah.

Polri Presisi
Polri Untuk Indonesia

Jambore FPRB Kota Probolinggo akan melibatkan perwakilan Desa Tangguh Bencana (Destana) dari seluruh kelurahan. Partisipasi tersebut diharapkan mempertemukan berbagai unsur masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kebencanaan sekaligus memperkuat hubungan antarkomunitas dalam mendukung upaya kesiapsiagaan.

Rapat koordinasi dihadiri Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo Boedi Harjanto, Sekretaris BPBD Dedy Ristantama, Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Nurkholiq, Ketua FPRB Sugeng Nufindarko, Ketua Panitia Syaifudin Zuhri, serta seluruh pengurus FPRB Kota Probolinggo.

Ketua FPRB Kota Probolinggo, Sugeng Nufindarko, menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat merupakan unsur penting dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana. Menurutnya, keberadaan FPRB dan Destana perlu terus diperkuat agar upaya pengurangan risiko bencana dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat kelurahan.

Sugeng menjelaskan bahwa jambore menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antarpengurus dan perwakilan Destana. Melalui pertemuan tersebut, para peserta diharapkan dapat membangun komunikasi yang lebih baik serta menumbuhkan semangat bersama dalam menghadapi berbagai potensi ancaman bencana.

Ia menilai kesiapsiagaan perlu ditanamkan melalui kepedulian dan keterlibatan aktif masyarakat, bukan hanya melalui penanganan ketika bencana terjadi. Oleh karena itu, kegiatan yang mempertemukan para pegiat kebencanaan perlu dimanfaatkan untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya pencegahan dan kesiapan sejak dini.

“Bagi kami, jambore ini merupakan kesempatan untuk memperkuat komitmen bersama dalam pengurangan risiko bencana. Kami ingin seluruh pengurus FPRB dan perwakilan Destana semakin solid, memiliki komunikasi yang baik, serta terus mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesiapsiagaan,” ujar Sugeng.

Ia berharap hasil dari kegiatan tersebut dapat menjadi dorongan bagi para pengurus untuk terus menjalankan peran masing-masing dalam mendukung ketangguhan masyarakat. Menurutnya, upaya membangun kesiapsiagaan akan lebih kuat apabila dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan.

Sugeng juga menekankan pentingnya menjaga semangat gotong royong dalam setiap kegiatan kebencanaan. Dengan komunikasi dan kerja sama yang terpelihara, berbagai unsur diharapkan mampu saling mendukung dalam meningkatkan kepedulian terhadap potensi risiko di lingkungan masing-masing.

Sementara itu, Ketua Panitia Jambore FPRB Kota Probolinggo, Syaifudin Zuhri, menjelaskan bahwa rapat koordinasi menjadi bagian dari upaya memastikan kesiapan panitia sebelum kegiatan berlangsung. Seluruh pengurus diajak menyelaraskan persiapan agar kebutuhan pelaksanaan jambore dapat ditangani melalui koordinasi yang baik.

Syaifudin menyampaikan bahwa kegiatan yang melibatkan perwakilan Destana dari seluruh kelurahan membutuhkan kesiapan bersama. Karena itu, panitia berupaya menjaga komunikasi dengan para pengurus agar setiap unsur dapat memahami tanggung jawabnya dalam mendukung pelaksanaan kegiatan.

Menurutnya, jambore juga dapat menjadi ruang bagi para peserta untuk memperkuat hubungan dan bertukar pengalaman terkait aktivitas kebencanaan di lingkungan masing-masing. Interaksi tersebut diharapkan dapat membangun semangat kolaborasi yang lebih luas di antara komunitas yang bergerak dalam pengurangan risiko bencana.

“Melalui koordinasi ini, kami berupaya memastikan persiapan jambore berjalan sesuai rencana. Dukungan seluruh pengurus sangat diperlukan agar kegiatan di PPI Mayangan dapat terlaksana dengan baik dan menjadi kesempatan untuk mempererat kebersamaan para pegiat kebencanaan,” kata Syaifudin.

Ia menambahkan, koordinasi menjelang kegiatan perlu dijaga hingga hari pelaksanaan. Dengan kesiapan yang terus dimatangkan, panitia berharap seluruh agenda dapat berjalan tertib dan para peserta dapat mengikuti kegiatan sesuai dengan rencana yang telah disusun.

Syaifudin turut berharap kehadiran perwakilan Destana mampu memperkuat jaringan komunikasi antarkelurahan. Menurutnya, hubungan yang terjalin melalui kegiatan bersama dapat menjadi modal untuk meningkatkan kerja sama dalam mendukung kesiapsiagaan masyarakat di Kota Probolinggo.

Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo, Boedi Harjanto, menempatkan kolaborasi masyarakat sebagai bagian penting dalam upaya pengurangan risiko bencana. Ia menilai, keberadaan FPRB dan Destana dapat mendukung peningkatan kesadaran warga terhadap ancaman bencana di lingkungan tempat tinggal mereka.

Boedi menjelaskan bahwa penanggulangan bencana tidak hanya berkaitan dengan tindakan saat keadaan darurat, tetapi juga mencakup langkah pencegahan dan kesiapsiagaan. Pemahaman mengenai potensi ancaman perlu dibangun agar masyarakat dapat melakukan antisipasi dan mengetahui pentingnya persiapan sebelum bencana terjadi.

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah membutuhkan dukungan berbagai unsur masyarakat untuk memperluas upaya kesiapsiagaan. Melalui koordinasi yang baik, BPBD bersama FPRB dan Destana diharapkan dapat mendorong partisipasi warga dalam membangun lingkungan yang lebih tangguh terhadap risiko bencana.

“Pengurangan risiko bencana harus menjadi perhatian bersama. Kami berharap Jambore FPRB dapat memperkuat sinergi antara BPBD, pengurus FPRB, dan perwakilan Destana sehingga kepedulian serta kesiapsiagaan masyarakat dapat terus ditingkatkan,” ungkap Boedi.

Boedi juga mengingatkan pentingnya menjaga kesinambungan upaya pengurangan risiko bencana. Menurutnya, kegiatan jambore akan memiliki arti lebih besar apabila mampu mendorong para peserta untuk terus mengembangkan kepedulian dan menerapkan pemahaman kesiapsiagaan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat hubungan antara pemerintah daerah dan unsur masyarakat yang terlibat dalam kebencanaan. Kolaborasi yang terbangun diharapkan membantu menciptakan komunikasi yang lebih efektif dalam mendukung berbagai langkah pencegahan dan kesiapsiagaan di tingkat lokal.

Dalam rapat tersebut, kesiapan pengurus juga menjadi bagian dari pembahasan menjelang pelaksanaan jambore. Kekompakan organisasi dipandang penting untuk menunjang kelancaran kegiatan yang melibatkan banyak unsur dan membutuhkan koordinasi antarpersonel.

Keterlibatan perwakilan Destana dari seluruh kelurahan diharapkan memperluas kesempatan untuk membangun pemahaman bersama mengenai risiko bencana. Selain mempererat hubungan, pertemuan tersebut dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan semangat saling mendukung dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Panitia bersama pengurus FPRB juga terus mempersiapkan kebutuhan yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan di PPI Mayangan. Seluruh unsur diharapkan menjaga komunikasi agar agenda yang direncanakan dapat berjalan dengan tertib dan sesuai dengan tujuan jambore.

Menjelang penutupan rapat koordinasi, seluruh pengurus FPRB Kota Probolinggo menerima pembagian seragam yang akan digunakan saat jambore berlangsung. Pembagian tersebut menjadi bagian dari rangkaian persiapan sekaligus mendukung keseragaman identitas para pengurus selama kegiatan.

Seragam tersebut diharapkan dapat menambah kekompakan dan memperkuat rasa kebersamaan di antara para pengurus. Penggunaan identitas yang sama juga menjadi salah satu bentuk kesiapan organisasi dalam menyambut agenda yang melibatkan perwakilan Destana dari seluruh kelurahan.

Rapat koordinasi kemudian diakhiri dengan harapan agar seluruh persiapan dapat dituntaskan sebelum Jumat mendatang. Pengurus FPRB bersama BPBD berupaya menjaga sinergi sehingga pelaksanaan jambore dapat berlangsung sesuai rencana.

Melalui kegiatan tersebut, FPRB Kota Probolinggo diharapkan semakin memperkuat perannya dalam mendorong kesiapsiagaan masyarakat. Kerja sama antara pemerintah, komunitas kebencanaan, dan perwakilan Destana menjadi bagian penting dalam membangun kepedulian terhadap potensi ancaman bencana.

Jambore FPRB Kota Probolinggo pada 16 Oktober 2026 mendatang diharapkan menjadi momentum untuk mempererat kolaborasi sekaligus memperkuat budaya sadar bencana. Dengan keterlibatan berbagai unsur, upaya mewujudkan masyarakat yang lebih siap dan tangguh menghadapi bencana di Kota Probolinggo diharapkan dapat terus berkembang.

(Saila)